History Department


13 Aug 2019, 17:07 Harry Ridwan Dibaca : 446


SEJARAH DEPARTEMEN KARDIOLOGI DAN KEDOKTERAN VASKULAR FAKULTAS KEDOKTERAN U NIVERSITAS PADJADJARAN
 
Konferensi Nasional Perhimpunan Dokter Sesialis Jantung dan Pembuluh Darah pada tahun 2004 di Denpasar Bali merekomendasikan urgensi untuk dibentuknya pusat-pusat studi kardiovaskular baru di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan dokter spesialis Jantung dan pembuluh darah di Indonesia, dimana pada rapat Kolegium Kardiovaskular tanggal 24 februari 2004 FK-UNPAD ditunjuk sebagai salah satu calon pusat studi yang potensial.

Dengan berdasarkan surat Kolegium Kardiovaskular tanggal 9 November 2004, Rektor Universitas Padjadjaran pada tanggal 27 november 2004  mengeluarkan surat yang mendukung gagasan untuk melakukan persiapan dibentuknya Program Studi Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Kolegium Kardiovasklular dengan suratnya tanggal 10 Januari 2005 mensyaratkan adanya Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular untuk dapat menjadi pusat studi kardiologi dan kedokteran vaskular.

Untuk meyakinkan perlunya pembentukan departemen ini pertemuan-pertemuan dan presentasi pada bulan Februari 2005 dengan Rektor UNPAD [Prof. Dr. A. Himendra Wargahadibrata, SpAn(K)], Pembantu Rektor I  UNPAD [Prof. Ponpon Ijdradinata, SpA(K)], Dekan FK-UNPAD [dr. Eri Surachman, SpAn(K)], Direktur Utama RSHS [Prof. Cissy R. Kartasasmita, SpA(K)],  Kepala Bagian IPD [Prof. Rully M.A. Roesli, SpPD-KGH, serta presentasi didepan Staff senior Bagian Ilmu Penyakit Dalam, dan Komite Medik RSHS. Presentasi didepan staf senior Bagian Ilmu Penyakit Dalam juga dihadiri oleh Prof. Dede Kusmana, SpJP(K)[FKU]) dan Prof. Junus Alkatiri, SpPD SpJP(K)[UNHAS], yang mewakili Kolegium Kardiovaskular Indonesia yang juga melakukan visitasi kelayakan dibentuknya Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular di Fakulats Kedokteran Universitas Padjadjaran.

Dari hasil pertemuan-pertemuan diatas, Rektor Universitas Padjadjaran akhirnya mengeluarkan  Surat Keputusan Rektor Universitas Padjadjaran Nomor 831/J06/Kep/KP/2005 tanggal 30 April 2005 tentang pembentukan Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, dan menunjuk dr. Eko Antono, SpPD, SpJP(K) dan dr. Erwinanto, SpJP(K) sebagai Kepala Departemen dan Sekretaris Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular Fakultas Kedokteran UNPAD.

Dukungan dari semua fihak dari Pimpnan Universitas, Dekan FK UNPAD, Pimpinan RSHS, dan semua bagian terkait terutama bagian Ilmu Penyakit Dalam perlu untuk kita ingat dan syukuri. Secara khusus perlu dikemukakan disini agar kita tidak  pernah melupakan jasa dan dukungan yang luar biasa dari Prof. Dr. Abdullah Himendra Wargahadibrata, SpAn(K) selaku Rektor Universitas Padjadjaran, Prof. Dr.dr Ponpon Idjradinata, SpA(K) selaku Pembantu Rektor I Universitas Padjadjaran, dan Prof. Dr. dr. Rully M.A. Roesli, SpPD-KGH selaku Kepala Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran didalam pembentukan Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FK UNPAD.


Sejarah Pelayanan dan Penunjang Pendidikan di bidang Kardiologi dan Kedokteran Vaskular di FK-UNPAD/RSHS

Pembentukan suatu program studi dalam bidang kedokteran klinik tidak terlepas dari sarana penunjang pendidikan dan sumber daya manusia pendukungnya. Sarana pelayanan di RSHS merupakan lahan pendidikan, dan sumber daya manusia yang berasal dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan Kementerian Kesehatan menjadi modal dasar dibetuknya program studi ini.
Pendidikan dalam  bidang kardiovaskular di FK-UNPAD/RSHS pada awalnya merupakan bagian dari pendidikan Ilmu Penyakit Dalam, baik untuk pendidikan dokter dan maupun pendidikan dokter spesialis Ilmu Penyakit Dalam.

Subbagian Kardiovaskular (sekarang Divisi Kardiovaskular) Bagian Ilmu Penyakit Dalam (sekarang SMF/Departemen) yang dibentuk pada awal tahun 1970-an mempunyai 10 tempat tidur perawatan (masing-masing 5 tempat untuk pasien laki-laki dan wanita di R XA dan R XB). Staf subagian adalah dr. Ernijati Suardi dan dr. Benjamin Widjajakusumah alm (1972), kemudian bergabung dr. Abidin Prawirakusumah (1976).

Perkembangan dalam pelayanan kardiovaskulardi RSHS meningkat dengan dibukanya sarana pelayanan intensif jantung (CICU/Cardiac Intensive Care Unit (7 tempat tidur dengan bedside monitor, telemetri, unit temporary pace maker) pada tanggal 21 November 1982. Sarana penunjang yang juga didapat dari RSHS/Kemkes pada saat itu adalah unit treadmill exercise test, ekokardiograf dan holter monitor. Dalam kurun waktu in  bergabung dr. Eko Antono (1981) dan dr. Agustine Purnomowati (1991).
Perkembangan tindakan yang dilakukan pada kurun waktu tahun 80-an a.l. pemasangan pacu jantung, yang dlakukan  dengah pembedahan dengan memasang elektroda miokardial, perikardiektomi, dan 1 kasus closed mitral commissurotomy.

Perkembangan berikutnya adalah dibentuknya Tim Bedah Jantung/Tim Kardiovaskular pada akhir tahun 90-an, yang dibentuk untuk mempersiapkan pelaksanaan bedah jantung di RSHS. Dr Thaher Djalil SpA(K) alm, dr Warko Karnadihardja SpB Dig alm, dr Marsudi Rasman SpAn, dan dr. Eko Antono SpPD SpJP pernah mengetuai Tim Ini, sampai dibentuknya Divisi Pelayanan Jatung pada tahun 2003 (diresmikan oleh Menteri Kesehatan pada tanggal 23 Oktober 2003). 

Kerja sama dengan Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta untuk persiapan bedah jantung, dimulai dengan pendidikan kardiologi dasar dan lanjut untuk para perawat. Bedah jantung terbuka pertama kali dlaksanakan pada tahun 2001. Untuk menunjang kegiatan ini juga didapat ekokardiogram baru, dan heart lung machine. Kateterisasi jantung sederhana dilakukan dengan menggunakan C-arm X-Ray unit. Sampai tahun 2004 lebih dari 100 kali pembedahan jantung dilakukan di RSHS Cardiac-ICU yang baru dan laboratorium kateterisasi, yang dibuka pada tahun 2002 sebagai bagian dari pembangunan COT (Central Operating Teathre), Instalassi Gaswat Darurat, dan RIK-Parahyangan, melengkapi sarana pelayanan jantung yang paripurna di RSHS.

Sarana pelayanan jantung selanjutnya berkembang dengan bantuan Kementerian Kesehatan yang membina terbentuknya pelayanan jantung terpadu di 16 rumah sakit di Indonesia. Bantuan ini di pergunakan untuk mengembangkan Divisi Pelayanan Jantung, yang gedungnya diresmikan oleh Menteri Kesehatan pada tanggal 23 Oktober 2003. Disini ditampung kegiatan diagnostik noninvasive (Ekokardiografi, treadmill exercise test, holter monitoring), ruang perawatan jantung intermediate, unit rehabilitasi jantung, dan poliklinik spesialis jantung. Divisi Pelayanan Jantung kemudian diubah menjadi Instalasi Pelayanan Jantung RSHS pada tahun 2006, yang mengkoordinir pelaksanaan pelayanan jantung di RSHS.

Perkembangan lahan pelayanan pendidikan ilmu penyakit jantung dan pembuluh darah ini akan segera meningkat dengan akan diresmikannya gedung Cardiac Center RSHS dalam waktu dekat ini. Mengantisipasi perkembangan dalam bidang pelayanan dan pendidikan ini, maka diperlukan pengembangan dalam jumlah sumber daya manusia, maupun peningkatan kemampuan  dalam semua aspek bidang Ilmu penyakit jantung dan pembuluh darah.