Stocking Kompresi untuk terapi Chronic Vein
Inssuficiency


06 Feb 2017, 12:27 Yogi Ramdani Dibaca : 168


Chronic Vein Insufficiency (CVI) atau Insufisiensi Vena Kronis, merupakan disfungsi vena jangka panjang yang terjadi pada tungkai. Lebih lanjut American Heart Association menjelaskan bahwa CVI mendeskripsikan suatu kondisi yang melibatkan sistem vena dari ekstremitas bawah dengan hipertensi vena yang dapat menyebabkan berbagai kelainan patologis termasuk nyeri, bengkak/ edema, perubahan kulit hingga ulserasi.  CVI merupakan suatu cakupan penyakit vena kronis. Perbedaan terminologi keduanya adalah bahwa Penyakit vena kronis lebih menekankan pada spektrum tanda dan gejala yang luas, sedangkan CVI secara umum menjelaskan suatu penyakit vena yang lebih parah.

     CVI lebih sering terjadi pada regio tungkai bawah dengan prevalensi yang berkisar antara 60% pada populasi dewasa. CVI lebih sering terjadi pada kaum wanita dibanding kaum pria dengan angka kejadian 25-40% berbanding 10-20%.  Angka kejadian CVI ini 2x lebih besar dibanding angka kejadian penyakit jantung koroner dan 5x lebih besar dibanding angka kejadian penyakit arteri perifer. Faktor risiko CVI adalah usia, jenis kelamin, riwayat keluarga dengan varises vena, obesitas, kehamilan, flebitis dan trauma pada kaki sebelumnya. Selain itu diperkirakan adanya faktor lingkungan atau kebiasaan atau tingkah laku yang berhubungan dengan peningkatan resiko CVI seperti berdiri terus menerus dan mungkin postur duduk tertentu selama kerja.

            Penyebab dari CVI terkait pada buruknya fungsi katup vena atau adanya hambatan di dalam vena. Katup vena didesain sedemekian rupa untuk membantu darah mengalir melawan gaya gravitasi dari kaki kembali ke dalam jantung. Ketika katup yang ada dalam vena gagal untuk menutup dengan baik, maka gaya gravitasi akan mendominasi dan aliran akan kembali ke bawah. Hal ini dikenal sebagai reflux vena. Kegagalan katup vena dapat disebabkan oleh berberapa hal, antara lain: Kelemahan dinding vena yang menyebabkan vena-vena  melebar sehingga katup tidak dapat menutup; adanya riwayat bekuan darah atau Deep Vein Thrombosis (DVT) / Trombosis Vena Dalam sehingga katup menjadi rusak; tidak adanya kelainan katup sejak lahir. Apapun penyebabnya, fungsi katup yang tidak efektif menyebabkan meningkatnya tekanan darah di tungkai, sehingga mengakibatkan hipertensi vena. Hal ini membuat pelebaran verises vena dan gejala-gejala lainnya seperti edema, perubahan warna kulit, dan ulkus baik di ankle ataupun tungkai bawah. Bila kegagalan katup dan reflux vena ini terjadi pada vena dalam, maka gejala yang terjadi adalah nyeri tungkai.

 

Gambar A. Gambaran perbedaan aliran darah yang terjadi pada katup vena yang normal dan pada CVI;

 

Gambar B. Manifestasi Klinis pada CVI

 

     Terapi kompresi telah digunakan untuk mengobati penyakit kronis vena sejak dahulu kala, dengan penggunaan pertama kali ditemukan pada jaman corpus hippocraticum (450-350 SM). Walaupun telah menjadi komponen ujung tombak dalam pengobatan CVI, namun tidak ada kejelasan dan kesepakatan dalam meresepkan terapi kompresi ini. Terapi kompresi ditujukan untuk meningkatkan aliran balik vena dan limfe, sehingga mengurangi edema dan tekanan vena di tungkai, dengan cara mengaplikasikan tekanan dari luar. Kompresi didapatkan dengan cara penggunaan perban, stocking, atau dalam kondisi tertentu dengan kompresi pneumatic intermiten. Stocking kompresi ini mengerahkan tingkat tekanan kompresi terbesar pada pergelangan kaki , dan tingkat kompresi secara bertahap menurun hingga pangkal dari stocking-nya. Terapi kompresi ini tetap menjadi standar utama dalam pencegahan dan terapi disfungsi sistem vena ataupun sistem limfatik.

 

     Semua pasien harus menjalani terlebih dahulu pemeriksaan Ankle Brachial Index (ABI) dengan doppler ultrasound. Terapi kompresi aman diberikan pada pasien-pasien dengan ABI > 0.8, dan harus dihindari pada pasien dengan ABI < 0,5, karena ABI yang rendah tersebut menandakan adanya penyakit arteri yang berat. Pada pasien dengan ABI antara 0,5-0,8, kompresi yang boleh diberikan hanya kompresi ringan saja. Sebuah standar internasional membagi kompresi menjadi 4 kategori : ringan (<20 mmHg) , sedang (>20-40 mmHg), kuat (<40-60 mmHg) dan sangat kuat  (>60 mmHg).5

 

Terapi kompresi, baik dengan perban ataupun stocking, dapat diaplikasikan melalui 2 metode: sistem elastik yang mengijinkan adanya tekanan saat istirahat yang tinggi dan tekanan rendah saat adanya kontraksi otot; dan sebuah sistem penyangga yang relatif kaku dan inelastik sehingga memberikan tekanan rendah saat istirahat dan tekanan tinggi saat ada aktivitas otot. Suatu penelitian yang dilakukan oleh Spence

dkk, pada tahun 1996 mendapatkan bahwa kompresi inelastik memberikan efek penurunan reflux vena dan peningkatan fungsi pompa otot betis jauh lebih besar dibandingkan dengan kompresi elastik.

 

     Stocking tersedia dalam macam-macam rupa, baik diatas ataupun dibawah lutut, dapat dibuat sesuai permintaan namun juga tersedia dengan ukuran yang standard. Tidak ada perbandingan langsung mengenai tingkat efektivitas stocking setinggi lutut dengan stocking setinggi paha, namun demikian stocking diatas lutut lebih sulit digunakan dan memiliki resiko tambahan untuk terjadinya efek torniket yang dapat menggangu aliran balik vena lebih lanjut, terutama jika tungkai yang di obati tidak di ukur secara tepat.  Faktor ini dapat menggangu tingkat komplians pasien terhadap pengobatan. Stocking kompresi ini harus diganti setiap 3-6 bulan, bila digunakan setiap hari. Selain itu penilaian ulang dengan terhadap CVI perlu dilakukan setiap 6 bulan, bila perlu dengan Doppler ultrasound.

 


ARTICLE
Apa Komentar Anda ?

0 Komentar

Tidak ada data yang tersedia.