Penutupan Defek Septum Atrium dan Duktus
Arteriosus Persisten melalui Kateterisasi Jantung


25 Sep 2020, 23:48 Dandi Gumilar Dibaca : 10,138


(dr.  Diah Purwandini Asmoro)
 
Kelainan bocor jantung merupakan penyakit jantung bawaan yang relatif sering ditemukan dalam masyarakat. Diantara berbagai kelainan bocor jantung bawaan tersebut lubang pada sekat inter-atrium (defek septum atrium = DSA) dan persistensi saluran antar pembuluh aorta dan pulmonal postnatal (duktus arteriosus persisten = DAP) merupakan jenis yang sering dijumpai secara klinis.
 

Penatalaksanaan kelainan bawaan tersebut pada awalnya dilakukan melalui tindakan operasi jantung terbuka untuk koreksi defek yang ada. Pada tahun 1995, seorang radiologis berkewarganegaraan Austria yang bernama dr. Kurt Amplatz mendesain suatu alat yang dinamakan Amplatzer, yang dapat dimasukkan ke jantung melalui teknik kateterisasi dan berfungsi sebagai penutup defek jantung bawaan. Alat tersebut pertama kali digunakan untuk menutup DSA, sehingga disebut Amplatzer Septal Occluder (ASO). Selanjutnya Amplatzer tersebut dikembangkan juga desainnya untuk berfungsi sebagai  penutup defek septum ventrikel (DSV) yang disebut Amplatzer Venticular Occluder (AVO) dan penutup DAP yaitu Amplatzer Ductal Occluder (ADO). Dengan demikian, dimulailah era penutupan berbagai kelainan jantung bawaan tersebut melalui prosedur kateterisasi jantung, tanpa melalui bedah jantung terbuka seperti sediakala. Seiring dengan kemajuan teknologi, saat ini telah tersedia berbagai desain dari alat okluder transkateter yang diproduksi oleh berbagai perusahaan  medis.

Secara umum, indikasi dan persyaratan untuk dapat dilakukan penutupan DSA yaitu:

 

  1. Adanya pirau dari ruang jantung kiri ke kanan dengan rasio aliran darah pulmonal dibanding aliran darah sistemik/ flow ratio (Qp/Qs) -+ 1.5 dan/atau terdapat pembesaran ventrikel kanan
  2. Pasien DSA dengan kecurigaan adanya emboli paradoksikal
  3. Tidak terdapat resistensi vaskular paru yang tinggi
  4. Penutupan melalui transkateter dengan ASO merupakan pilihan pertama pada DSA sekundum yang mempunyai morfologi anatomi dengan diameter defek 5-32 mm dan lebar rim atau tepi lubang minimal 4 mm

Prosedur penutupan DSA transkateter dilakukan di laboratorium kateterisasi jantung dengan menggunakan fluoroskopi dan ekokardiografi. Salah satu jenis alat okluder septal yang umumnya dipakai adalah Amplatzer (ASO) yang bentuknya menyerupai cangkram ganda dan dapat mengembang sendiri (self expandanble). Alat ini terbuat dari kawat nitinol berdiameter 0.004-0.0075 inci yang teranyam kuat menjadi dua cakram dengan pinggang penghubung.

Prosedur pemasangan alat septal okluder transkateter diawali dengan tindakan aseptik dan antiseptik daerah femoralis, dilanjutkan dengan aplikasi bius lokal ataupun total, kemudian akses ke vena femoralis. Amplatzer ballon sizing untuk mengukur besarnya defek septum atrium, dimasukkan melalui guiding wire dengan rute vena femoralis, kemudian vena cava inferior, atrium kanan dan atrium kiri. Saat besarnya defek sudah ditentukan, ballon sizing dilepaskan kembali. Proses selanjutnya adalah pemasangan ASO dengan ukuran yang sesuai melalui delivery sheath dengan rute yang sama.Tindakan ini pada umumnya relatif aman dengan kejadian komplikasi major dilaporkan <0.1%.  Komplikasi periprosedural yang dapat terjadi meliputi embolisasi, terbentuknya trombus, stroke, perforasi, tamponade jantung dan aritmia.

Pasca prosedural, pasien diberikan aspirin dosis kecil selama 6 bulan dan dilakukan evaluasi ekokardiografi secara periodik untuk melihat adanya lubang yang tersisa (residual shunt) adanya obstruksi vena pulmonalis, sinus koronarius, vena cava serta fungsi dari katup mitral dan trikuspid.

Indikasi penutupan DAP secara umum meliputi adanya pirai dari ruang jantung kiri ke kanan yang ditandai dengan flow ratio >1.5 dengan resistensi vaskuler paru yang masih baik.   Beberapa pusat pelayanan mengindikasikan penutupan transkateter dengan alat okluder pada lesi DAP berukuran 4 sampai 10 mm. Amplatzer ductal occluder (ADO) terdiri dari lempeng berbentuk cakram yang datar dan badan utama yang berbentuk silinder serta didalamnya terdapat lapisan dakron yang terbuat dari polyester. Retention disc ukurannya 4 mm lebih besar dari badan utama, strukturnya mirip dengan kerucut. Ukuran ADO yang akan dipasang dipilih berdasarkan diameter dari ujung pulmonal dari defek/ pulmonary end (bagian DAP yang terkecil yang membentuk bagian atas kerucutnya) pada angiografi ditambah sekurang-kurangnya 2 mm lebih besar dari diameter terkecil dari ukuran tersebut. Ukuran ADO tersebut dinyatakan dalam dua angka berdasarkan diameter aorta dan pulmonal pada alat tersebut. Ukuran standar ADO adalah 6/4, 8/6. 10/8, 12/10, 14/12 dan 16/14 mm, yaitu angka awal (pembilang) merupakan ujuran dari aortic end dan angka terakhir (penyebut) adalah ukuran dari pulmonary end pada alat yang berbentuk kerucut tersebut.

Cara pemasangan ADO pada prinsipnya sama dengan pemasangan ASO, prosedur ini juga dilakukan dengan bantuan fluoroskopi. Pemasangan ADO dengan ukuran yang sesuai dilakukan melalui delivery sheath setelah ukuran DAP ditentukan dengan aortografi.

Pada beberapa studi, penutupan DAP dengan ADO transkateter menunjukkan efikasi yang baik. Penutupan komplit dapat dicapai pada sekitar 90% sampai 95% prosedur. Adanya perkembangan teknologi alat, teknik prosedural dan peningkatan kemampuan operator menunjang angka keberhasilan prosedur ini.

Serupa dengan prosedur penutupan dengan alat okluder septal pada DSA, prosedur penutupan DAP transkateter ini juga terbilang relatif aman dengan jarang terkait dengan komplikasi major. Evaluasi ekokardiografi secara berkala selanjutnya dijadwalkan pasca prosedural.

Penutupan DSA dan DAP melalui prosedur transkateter memberikan banyak keuntungan bagi pasien dibandingkan dengan operasi terbuka, antara lain meliputi tidak diperlukan insisi dan perlukaan dinding dada, menghindari kemungkinan tranfusi darah, waktu rawat inap yang lebih pendek, mobilisasi dan pemulihan lebih cepat, komplikasi lebih kecil, serta lebih ekonomis. Karena berbagai keunggulan tersebut, saat ini prosedur penutupan transkateter dengan alat okluder menjadi pilihan utama sebagai tatalaksana pada kasus DSA dan DAP dengan indikasi dan anatomi defek yang memenuhi persyaratan prosedural.   

Gambar 1. Alat ASO

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Pemasangan Penutupan DSA dengan ASO

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3. Prosedur Penutupan DAP dengan ADO


ARTICLE